Home Ekonomi BisnisMembaca Keputusan Pembiayaan PT Krakatau Steel dari Perspektif Behavioral Corporate Finance

Membaca Keputusan Pembiayaan PT Krakatau Steel dari Perspektif Behavioral Corporate Finance

Oleh: Bagus Risanto, Ida Matus Silmi, Muhmammad Aprizal, Raza Adrian Ananta, Tesa Afliyenti Mahasiswa Manajemen – Universitas Pamulang (UNPAM)

by ikon logo warta regionalTim Warta Regional
A+A-
Reset

Wartaregional.com | Beberapa tahun terakhir, kondisi PT Krakatau Steel (Persero) Tbk cukup sering jadi perhatian. Bukan cuma karena posisinya sebagai salah satu perusahaan baja terbesar di Indonesia, tapi juga karena kondisi keuangannya yang terus menghadapi tekanan. Di tengah persaingan industri baja, fluktuasi ekonomi, dan tingginya biaya operasional, perusahaan terus mencoba melakukan transformasi dan restrukturisasi bisnis agar bisa bertahan dan kembali stabil.

Kalau dilihat sekilas, langkah yang dilakukan perusahaan sebenarnya terlihat masuk akal. Krakatau Steel melakukan berbagai strategi transformasi, restrukturisasi utang, sampai pengembangan bisnis baru. Perusahaan juga terus berusaha menjaga operasionalnya tetap berjalan di tengah tekanan industri baja yang tidak mudah.

Tapi semakin diperhatikan, rasanya keputusan-keputusan seperti ini nggak sesederhana itu. Dalam dunia nyata, keputusan keuangan perusahaan nggak selalu murni soal angka. Kadang ada keyakinan manajemen, harapan terhadap masa depan perusahaan, sampai dorongan untuk mempertahankan keputusan yang sudah terlanjur diambil. Dari sini, pendekatan Behavioral Corporate Finance mulai terasa relevan untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi.

Ketika Tekanan Keuangan Mulai Terlihat

Kalau melihat laporan keuangan perusahaan, tekanan yang dihadapi Krakatau Steel sebenarnya cukup jelas. Pada tahun 2023, pendapatan perusahaan turun menjadi USD1,45 miliar dibandingkan tahun 2022 yang mencapai USD2,23 miliar. Selain itu, perusahaan juga mengalami rugi bersih sebesar USD131,65 juta setelah sebelumnya masih mencatat laba pada tahun 2021 dan 2022.

Di sisi lain, perusahaan juga masih memiliki tingkat utang yang cukup tinggi. Total liabilitas Krakatau Steel pada tahun 2023 mencapai USD2,35 miliar dengan rasio DER sebesar 4,77 kali. Artinya, perusahaan masih sangat bergantung pada pembiayaan berbasis utang dalam menjalankan kegiatan operasional dan strategi bisnisnya.

Dalam kondisi seperti ini, keputusan manajemen menjadi menarik untuk dibahas. Karena di satu sisi perusahaan harus tetap bertahan dan menjalankan transformasi, tapi di sisi lain risiko keuangan perusahaan juga semakin besar.

Ketika Keyakinan Manajemen Jadi Faktor Penting

Baca Juga :  JNT Ganti Rugi Barang Konsumen yang Hilang

Di sinilah konsep overconfidence mulai terasa relevan. Dalam Behavioral Corporate Finance, overconfidence menggambarkan kondisi ketika manajemen memiliki keyakinan yang terlalu tinggi terhadap kemampuan perusahaan dan strategi yang dijalankan.

Kalau dipikir-pikir, hal seperti ini mungkin saja terjadi pada Krakatau Steel. Perusahaan tetap menjalankan berbagai strategi transformasi dan pembiayaan meskipun tekanan keuangan masih cukup besar. Ada keyakinan bahwa strategi yang dijalankan akan mampu memperbaiki kondisi perusahaan di masa depan.

Menurut Baker dan Wurgler (2013), keputusan keuangan perusahaan sering kali tidak sepenuhnya rasional karena dipengaruhi oleh cara manajemen melihat kondisi perusahaan dan prospek bisnis di masa depan. Dalam kondisi tertentu, optimisme yang terlalu tinggi justru bisa membuat perusahaan meremehkan risiko yang ada.

Bukan berarti keputusan perusahaan salah. Tapi dari sini mulai terlihat bahwa keputusan bisnis memang tidak selalu sesederhana teori yang dipelajari di kelas.

Ketika Perusahaan Tetap Melanjutkan Strategi

Selain overconfidence, kondisi Krakatau Steel juga bisa dikaitkan dengan konsep escalation of commitment. Konsep ini menjelaskan bagaimana perusahaan cenderung tetap mempertahankan keputusan atau strategi tertentu meskipun hasil yang diperoleh belum sesuai harapan.

Dalam kasus Krakatau Steel, perusahaan tetap melanjutkan transformasi dan restrukturisasi bisnis meskipun profitabilitas perusahaan mengalami penurunan dan kondisi industri baja masih cukup menantang. Perusahaan juga masih memiliki tingkat leverage yang tinggi dengan rasio DAR sebesar 0,83 kali pada tahun 2023.

Kalau dipikir lagi, mungkin kondisi seperti ini memang nggak mudah. Ketika perusahaan sudah mengeluarkan banyak biaya, tenaga, dan strategi untuk sebuah transformasi, menghentikan atau mengubah arah keputusan tentu bukan hal sederhana. Di titik ini, keputusan perusahaan jadi bukan cuma soal hitungan keuangan, tapi juga soal keyakinan dan harapan bahwa strategi tersebut pada akhirnya akan berhasil.

Risiko yang Mulai Terlihat

Masalahnya, keputusan pembiayaan yang terlalu agresif juga punya konsekuensi besar. Tingginya penggunaan utang membuat perusahaan memiliki risiko keuangan yang lebih tinggi, terutama ketika pendapatan dan laba perusahaan mengalami penurunan.

Hal tersebut terlihat dari penurunan rasio profitabilitas perusahaan pada tahun 2023. ROA perusahaan turun menjadi -4,38% dan ROE menjadi -26,50%. Kondisi ini menunjukkan bahwa perusahaan mengalami penurunan kemampuan dalam menghasilkan laba dari aset dan modal yang dimiliki.

Selain itu, perusahaan juga menghadapi berbagai tekanan operasional seperti kerusakan Hot Strip Mill 1 dan volatilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat. Tekanan-tekanan seperti ini tentu membuat kondisi perusahaan menjadi semakin kompleks.

Baca Juga :  UMKM Binaan Dinas PPKUKM Jakarta Meriahkan Mega Halal Bangkok 2025

Di Antara Strategi dan Realita

Kalau dipikir-pikir, kondisi Krakatau Steel menunjukkan bahwa keputusan keuangan perusahaan memang nggak selalu berjalan sesuai teori. Secara strategi, transformasi dan restrukturisasi perusahaan mungkin terlihat masuk akal. Tapi dalam praktiknya, selalu ada risiko, tekanan, dan faktor psikologis yang ikut memengaruhi pengambilan keputusan.

Di sinilah Behavioral Corporate Finance jadi menarik. Karena pendekatan ini membantu melihat bahwa di balik laporan keuangan dan strategi perusahaan, tetap ada manusia yang mengambil keputusan—dengan keyakinannya, pertimbangannya, bahkan mungkin juga keraguannya.

Penutup

Kasus PT Krakatau Steel menunjukkan bahwa keputusan pembiayaan perusahaan tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi ekonomi dan kebutuhan bisnis, tetapi juga oleh faktor psikologis manajemen. Perilaku seperti overconfidence dan escalation of commitment dapat memengaruhi cara perusahaan mengambil keputusan di tengah tekanan keuangan.

Pada akhirnya, memahami keputusan perusahaan bukan cuma soal melihat angka dalam laporan keuangan, tetapi juga memahami bagaimana keputusan tersebut diambil. Dan mungkin, di situlah pendekatan Behavioral Corporate Finance menjadi penting untuk melihat sisi lain dari dunia bisnis dan keuangan.

 

Daftar Pustaka

PT Krakatau Steel (Persero) Tbk. (2023). Annual Report PT Krakatau Steel (Persero) Tbk Tahun 2023.

Baker, M., & Wurgler, J. (2013). Behavioral corporate finance: An updated survey. In G. M. Constantinides, M. Harris, & R. M. Stulz (Eds.), Handbook of the Economics of Finance (Vol. 2, pp. 357-424). Elsevier. doi.org

Brigham, E. F., & Ehrhardt, M. C. (2020). Financial management: Theory & practice (16th ed.). Cengage Learning.

Forbes, W. (2009). Behavioural finance. John Wiley & Sons.

Krakatau Steel. (2023). Laporan keuangan konsolidasian PT Krakatau Steel (Persero) Tbk dan entitas anaknya untuk tahun yang berakhir pada tanggal 31 Desember 2023. PT Krakatau Steel (Persero) Tbk.

Krakatau Steel. (2024). Laporan tahunan 2023: Navigating challenges, sustaining transformation. PT Krakatau Steel (Persero) Tbk.

Shefrin, H. (2007). Behavioral corporate finance: Decisions that create value. McGraw-Hill/Irwin.

Subramanyam, K. R. (2014). Financial statement analysis (11th ed.). McGraw-Hill Education.

 

Apakah Artikel ini bermanfaat?
Yes0No0

You may also like

tagline

Logo Warta Regional
Dari Daerah untuk Indonesia

Alamat

@2025 – Warta Regional