Wartaregional.com | Para investor global mulai kehilangan kepercayaan secara cepat terhadap saham Indonesia setelah adanya kondisi anjloknya pasar saham dengan laju tercepat di dunia serta jatuhnya nilai tukar rupiah ke level terendah sepanjang sejarah Indonesia. Hanya dalam lima bulan setelah sempat menyentuh rekor tertinggi, indeks saham acuan Indonesia, IHSG, justru makin anjlok hingga 36 persen dan resmi menjadi indeks dengan kinerja terburuk di dunia sepanjang tahun 2026 dari sekitar 90 indeks global yang dipantau Bloomberg.
Presiden Prabowo Subianto mengambil kendali langsung atas ekspor komoditas utama untuk mencegah penghindaran pajak. Langkah berani ini justru memicu aksi jual besar-besaran saham eksportir dan menambah kegelisahan investor terhadap iklim investasi di Indonesia.
“The big trade in Asia right now is ‘Sell Indonesia’,” kata George Boubouras, selaku Head of Research di hedge fund K2 Asset Management, sebagaimana mengutip laporan Straits Timesyang digemakan di Singapura, Sabtu (6/6/2026). Setelah hampir dua tahun selalu berinvestasi di Indonesia, Boubouras akhirnya memutuskan untuk menarik seluruh saham investasinya sejak tahun 2024. “I have zero exposure to Indonesia. I’m not going to give them a chance,” ujar Boubouras menambahkan.
Narasi Sell Indonesia ini memicu reaksi emosional publik karena dianggap merendahkan perekonomian Indonesia. Sebagai tandingan, netizen Indonesia memviralkan tagar #SellSingapore di media sosial. Fenomena ini muncul sebagai bentuk penolakan masyarakat ketika kekuatan ekonomi Indonesia dipandang sebelah mata oleh pasar regional. Hal ini juga membuktikan bahwa Indonesia memiliki keinginan kuat untuk tidak bergantung pada negara asing.
Selain itu, sebuah kampanye yang mampu menarik banyak perhatian publik secara tiba-tiba muncul di media sosial. Utusan Khusus Presiden, Raffi Ahmad, bersama Yudo Achilles Sadewa, putra Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Purbaya Yudhi Sadewa, serentak menggemakan gerakan berjudul “Buy Indonesia” melalui akun Instagram masing-masing.
Ajakan “Buy Indonesia” tidak boleh hanya dipahami secara emosional ataupun sebagai bentuk nasionalisme. Investasi yang baik tetap harus didasarkan pada analisis yang logis. Benjamin Graham, bapak investasi nilai, mengingatkan bahwa investor harus selalu memperhatikan fundamental perusahaan, termasuk profitabilitas, arus kas, tingkat utang, kualitas manajemen, dan prospek pertumbuhan bisnisnya. Tidak semua saham layak dibeli; seleksi yang cermat tetap menjadi ketentuan utama.
Namun ajakan untuk “Buy Indonesia” ini dapat menjadi pengingat bahwa negara kita memiliki potensi besar yang layak diperhatikan. Sejarah ekonomi Indonesia juga menunjukkan kemampuan negara ini untuk bertahan dari berbagai krisis. Indonesia pernah mengalami krisis moneter 1998, krisis keuangan global 2008, hingga pandemi COVID-19 pada 2020. Dalam setiap peristiwa tersebut, perekonomian Indonesia memang mengalami tekanan berat, tetapi selalu mampu kembali bangkit.
Pengalaman bersejarah ini menunjukkan bahwa ekonomi nasional memiliki daya tahan yang tidak dapat diremehkan. Karena itu, sebagai bangsa yang memahami potensi negaranya sendiri, kita tidak perlu terjebak dalam ketakutan yang berlebihan.